Senin, 28 November 2011

Ibu-ibu di Pedesaan Lebih Taat Bayar Kredit

Jakarta - Risiko kredit perbankan di daerah pedalaman justru lebih rendah ketimbang di perkotaan. Penduduk di pedalaman, terutama kaum hawa justru lebih taat membayar cicilan kredit secara tepat waktu.

"Justru yang lebih penting di pedesaan itu akses, kredit macet di pedesaan rendah, karena kontrol sosial, karena banyaknya kaum ibu. NPL-nya rendah sendiri ke perempuan dan ibu-ibu terutama," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Haddad di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (25/11/2011).

Dikatakan Muliaman, ibu-ibu memang lebih rajin dan bertanggung jawab ketika meminjam di bank ataupun jasa keuangan lain ketimbang para pria. Menurutnya perhitungan para kaum ibu lebih matang dari sisi pengelolaan keuangan.

"Memang seperti itu, jadi mohon maaf untuk kaum pria karena yang banyak berpengalaman pengelolaan keuangan baik itu ibu-ibu," tutur Muliaman.

Ditempat yang sama, Direktur Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Edy Setiadi mengatakan masyarakat pedesaan tidak begitu sensitif terhadap suku bunga. Berapapun suku bunganya, masyarakat pedesaan lebih mementingkan kebutuhan akan kredit dan akses yang cepat.

"Karena faktor bunga itu menjadi nomor dua, masyarakat dan pengusaha kecil dipedesaan lebih nyaman meminjam ketika ada akses. Jadi maupun oleh bank atau oleh tetangga sendiri asal ada akses mudah maka akan diambil berpapun bunganya," kata Dia.

Lebih jauh Edy memaparkan, tingkat bunga kredit yang diberikan bank untuk UMKM cenderung sudah cukup rendah. Namun masih ada potensi penurunan seiring BI Rate yang turun.

"Suku bunga berbeda-beda UMKM berbeda dan bervariasi, rata rata mikro itu 20 persen ke atas, usaha kecil di kisaran 15-20 persen serta menengah 15 persen ke bawah," tutup Edy.

sumber : detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar