Senin, 28 November 2011

Kisah Titin Lolos dari Maut di Kartanegara

VIVAnews - Bisa selamat dari peristiwa tragis runtuhnya Jembatan Kartanegara seperti mukjizat bagi Aji Titin (32). Wanita itu tak bisa berenang. Dia bahkan pasrah ketika tubuhnya timbul tenggelam di tengah Sungai Mahakam.

Namun, sebuah tangan yang seperti dewa penolong baginya membuat harapan hidup menggelora. Titin lolos dari maut meski tulang punggungnya patah dan menderita kesakitan hebat.

Senin 28 November 2011, Titin masih beristirahat di ruangan Asoka 2, RS. Parikesit, Tenggarong. Dia ditemani suaminya, Rendra Fadli, dan anak sulungnya. Tubuhnya lebih segar ketimbang hari pertama ditemukan.

Walaupun begitu, Titin masih belum bisa duduk dengan nyaman. Tulang punggungnya yang patah membuat dia merasa kesulitan untuk menggerakkan badan.

Sore yang seharusnya cerah itu, Aji baru saja pulang dari kantornya. Sehari-harinya, wanita itu merupakan Asisten Dosen di Samarinda. Titin bertolak dari Ibukota Provinsi Kaltim itu sekitar pukul 15.30 Wita. Begitu pekerjaannya kelar, dia langsung berangkat. Dari tempatnya bekerja di Samarinda Jl. Jenderal Sudirman, wanita itu memerlukan waktu 1 jam untuk sampai ke jembatan.

Di jembatan, waktu itu dia lihat jalanan macet, kendaraan merayap memasuki jembatan layang. Motornya baru saja melewati antrean. Di depannya, terbentang jembatan.

Tak seperti biasanya, sore itu kendaraan mesti meluncur dengan pelan. Namun, petaka terjadi ketika dia masih berada di ujung jalan masuk jembatan tersebut. Tanpa tanda apapun badan jembatan di bawahnya runtuh.

Titin tak kuasa bereaksi. Tubuhnya meluncur deras ke bawah, mengikuti patahan badan jembatan. Badan kecilnya menghantam aspal dan membentur besi penyangga badan jembatan. Rasa sakit luar biasa dirasakannya di sekujur tubuh.

“Saya tenggelam bersama dengan material jembatan. Saya beruntung, karena berada paling belakang, dan tak terperosok duluan ke bawah,” katanya.

Di dalam air, Titin bertarung melawan maut. Dia tersedot arus air yang deras, ditambah lagi dengan tekanan air yang luar biasa akibat benda ribuan ton jatuh ke dalam air. Tubuh Titin timbul tenggelam di dalam air. Dia kesulitan untuk bernafas.

Helm yang dikenakannya semakin membuat kondisinya terjepit. Titin berusaha untuk melepaskan pengait helm. “Helmnya susah dibuka, pengaitnya macet,” ujarnya.

Berhasil membuka helm, Titin lantas berusaha untuk mencari pegangan. Dia terus menggerakkan kaki dan tangannya. Namun, kondisinya yang lemah membuat dia timbul dan tenggelam. Beberapa saat berada di dalam air, akhirnya Titin mulai bisa menguasai diri. Dia tersadar ketika tubuhnya hanyut cukup jauh dari jembatan.

“Saya menoleh ke jembatan. Tapi, hanya ada besi kuning dan tali penahan tiang,” katanya.

Yang dimaksud besi kuning oleh Titin adalah tiang yang menjadi penyangga utama dari jembatan dan tali seling besar yang sebelumnya menjadi penyangga badan jembatan.

Ketika itu dia sudah pasrah dan hanya bisa menggerakkan kaki dan tangan. Titin tak bisa berenang. Namun, instingnya menyebutkan bahwa dia harus menggerakkan kaki dan tangan untuk tetap terapung di permukaan sungai.

Wanita beranak dua itu tak tahu berapa lama dia berada di sungai. Semua badannya terasa sakit. Tangannya mulai berat untuk digerakkan. Kakinya juga sulit untuk terus digerakkan.

Titin tenggelam lagi. Dalam hatinya, wanita itu terus mengucapkan kalimat menyebut nama Allah. Dia  beristighfar dan berusaha untuk menenangkan diri. Meski begitu, lama-kelamaan Titin mulai merasa sangat kelelahan. Dia terpikir bahwa saat itu adalah waktunya untuk “dipanggil”.

“Di sekeliling saya waktu itu ada kelihatan sebuah kapal tug boat yang tenggelam. Saya juga sempat lihat ada laki-laki memakai baju hitam timbul-tenggelam di air sambil berteriak meminta tolong. Saya diam aja, karena saya pikir ndak mungkin ada yang nolong. Kan kejadiannya baru saja,” tuturnya.

Dalam hatinya, Titin berusaha membangkitkan motivasi. Dia berucap pelan bahwa saat ini belum waktunya  “pergi”. “Hati saya bilang, awak masih hidup. Awak masih hidup,” imbuhnya.

Selanjutnya, pertolongan pun tiba. Ketika tangannya tak kuasa lagi menahan berat tubuhnya untuk tetap terapung di air, tiba-tiba sebuah tangan muncul dari atas dan menangkap lengannya. Titin merasa tubuhnya seperti ditahan. Dia berusaha menengadah dan melihat ke atas.

Seorang pria datang dengan gubang atau perahu kecil. Pria itu menarik tubuh Titin. Kepada Titin, pria tersebut bilang supaya Titin berpegangan ke pinggir perahu dan naik ke atasnya. Titin seperti mendapatkan tenaga. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, dia berusaha untuk naik ke atas perahu.

“Saya betul-betul sudah habis. Ndak bisa bergerak lagi. Orang itu bilang, istighfar. Kamu sudah selamat. Saya lantas ber-istighfar sebanyak mungkin dari dalam hati,” ujarnya.

Titin lalu mendengar bahwa pria yang menggunakan gubang itu berteriak. Dia memanggil temannya. Temannya itu membawa perahu bermesin. Lalu, Titin merasa tubuhnya ditarik ke atas dan direbahkan di perahu.

“Waktu itu baru terasa betapa sakitnya punggung belakang saya. Sakitnya bukan main. Saya mengaduh. Sesampainya di dermaga, saya lalu diangkat. Waktu diangkat, saya bilang punggung saya sakit. Lalu, ada sekitar 8 orang yang mengangkat saya sampai betul-betul tidak ada celah untuk punggung saya. Dengan cara begitu, baru saya merasa sedikit nyaman,” kata Titin.

Titin menderita patah tulang punggung nomor 1. Dia sempat hendak dioperasi. Namun, dokter kemudian menyarankan agar operasi tidak dilakukan, sebab resiko yang kemungkinan cukup besar. Oleh dokter, dia hanya disarankan untuk beristirahat dan meminum obat. Titin merasa bahwa dia masih diberikan kesempatan. Banyak sekali pertolongan yang dia dapatkan. Yang paling utama adalah, dia tak tenggelam meski tak bisa berenang.

“Saya berharap bertemu dengan penyelamat saya. Dia benar-benar perpanjangan tangan untuk menolong saya,” ucap Titin.

sumber :vivanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar